Rabu, 07 November 2007

HArGa RaSa TeRiMa KaSiH

Waktu itu usiaku 13 tahun. Ayahku sering mengajakku jalan-jalan naik mobil pada hari sabtu. Kadang-kadanh kami pergi ke taman, atau ke marina, melihat-lihat kapal. Kesenangan ku adalah jalan-jalan ke pasar loak, tempat kami mengagumi benda-benda elektronik. Kadang-kadang kami membeli sesuatu seharga 50 sen dolar hanya untuk di bongkar-pasang.
Dalam perjalanan pulang dari acara jalan-jalan ini, ayah sering mampir ke Dairy Queen. Membeli ice cream 10 sen. Tidak selalu; tapi cukup sering. Aku tak bisa terlalu mengharapkannya, tapi aku bisa berharap dan berdoa sejak kami mulai berjalan pulang sampai tikungan penting itu, dimana kita dapat terus lurus membeli ice cream atau berbel;ok dan pulang dengan tangan hampa. Belokan itu berarti kesenangan yang mengun dang air laut atau kekecewaan.
Beberapa kali ayah mnenggodaku dengan mengambil jalan pulang yang panjang. “ Kita lewat sini aja supaya tidak bosan.” , katanya, saat kami melewati Dairy Queen tanpa mampir. Tapi, hal itu hanya candanya saja, dan aku di belikan ice cream, sehingga hal seperti itu bukanlah siksaan.
Pada hari-hari yang paling menyenangkan, ia bertanya, dengan nada yang membuatnya terdengar tak lazim dan spontan, “Kamu mau beli ice cream?” dan aku berkata” Mau. yah!” Aku selalu memilih raasa coklat, sedangkan ayah rasa vanila. Ia memberiku 20 sen. Dan aku berlari masuk, membeli yang biasa kami beli. Kami makan di mobil aku mencintai ayahku dan menyukai ice cream – jadi, itulah surga bagiku.
Pada salah satu hari yang penting itu, kami dalam perjalanan pulang, dan aku berharap dan berdoa agar bisa mendengar tawarannya yang dikatakan dengan suaranya yang merdu. Tawarannya pun tiba. “Kamu mau es krim hari ini?”
“Mau, yah!”
Tapi kemudian ia berkata, “Aku juga mau. Bagaimana kalau kamu yang mentraktir ayah hari ini?”
Dua puluh sen! Dua puluh sen! Aku termenung. Aku bisa mentraktirnya. Uang jajanku seminggu 25 sen, plus uang tambahan untuk pekerjaan sambilan. Tapi, menabung itu penting. Ayah sendiri yang bilang. Dan kalau yang dipakai uangku, es krim itu hanya menghambur-hamburkan uang saja.
Mengapa waktu itu tak terpikirkan oleh ku bahwa ini adalah kesempatan emas untuk membalas kemurahan hatinya? Mengapa tak terpikirkan olehku bahwa ia sudah membelikan ku 50 es krim, dan aku tidak pernah membelikannya satu pun? Tapi yang terpikirkan oleh ku hanyalah “ 20 sen!”
Dengan memendam perasaan egois, pelit, dan tak tahu terimakasih, Aku mengucapkan kata-kata buruk yang terus terngiang di telinagku sampai hari ini, “ Kalau begitu tidak jadi.”
Papaku hanya berkata, “Ok”
Tapi, saat kami berbelok menuju rumah, aku menyadari betapa salahnya aku dan memohonnya kembali. “Aku yang bayar”, rengekku.


Tapi ia hanya berkata,"Gak usah, kita tidak perlu es krim kok". Dan tyak memdengar rengekanku. Kami pun pulang.

Aku merasa tidak enak karena sikap egois ku dan tak tahu terima kasih. Ia tidak menyebu-nyebut hal itu lagi dan juga tak kelihatan kecewa. Tapi justru sikap diamnya itulah yang meninggalkan kesan begitu dalam dihatiku.

Aku belajar bahwa kemurahan hati itu adalah jalan dua arah, dan rasa terima kasih kadang-kadang harganya lebih dari " Terima kasih". Pada hari itu rasa terima kasih mungkin harganya hanya 20 sen dan es krim yang kudapat pasti yang paling enak.

Ada satu hal lagi yang jhendak ku ceritakan. Kami jalan-jalan lagi mingu depannya dan saat mendekati belokan penting itu, aku berkata
" Yah. ayah mau es krim? Aku yang traktir.